<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=34079083&amp;blogName=hanya+sekedar+mencoba&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http://awanberhembus.blogspot.com/search&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http://awanberhembus.blogspot.com/&amp;vt=8270954464192363550" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

About me

Name:
Location: Madrassa, Hay Asyir, Egypt

shoutbox

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Credits

  Distributed by:
Template copyright :
V4NY ONLY TEMPLATES
Powered by :
Powered by Blogger
Sang Rembulan Selalu Saja Ceria
Saturday, October 07, 2006
Sang rembulan selalu saja ceria
walaupun ia tidak genap separuh
tetap saja para jejaka tertarik mendengar celotehannya
Tentang pementasan Nasrudin Hoja di Baghdad
atau romantisnya Romeo dan Juliat di Venezia
atau nyanyian putri duyung pada malam hari di samudra Atlantik

Rembulan tetap saja ia cantik malam ini
dan para makhluk telah terbuai melayang bersamanya
bersanding menemani rembulan yang selalu diacuhkan bintang
Kedudukan Puasa
Saturday, September 30, 2006
Kedudukan Puasa

DALAM sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim, Nabi pernah bersabda, "Islam dibangun atas lima hal." Pertama, kesaksian tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.
Kedua, mendirikan shalat. Ketiga, berpuasa pada bulan Ramadan. Keempat membayar zakat, dan kelima melaksanakan haji bagi yang mampu. Ini memperlihatkan artikulasi puasa sebagai ibadah yang wajib ditunaikan.
Nah, dalam hukum Islam, puasa menduduki posisi sentral. Alquran dengan tegas menyatakan tentang kewajiban orang beriman untuk berpuasa agar mereka menjadi orang yang bertakwa.
Dalam kenyataan sehari-hari, sebagian orang masih menganggapnya sebagai pelengkap dan kepatutan sosial saja. Mereka pun merasa tak berdosa saat meninggalkannya.
Ada yang melaksanakan puasa tutup kendang, tepinya rapat dan tengahnya bolong alias puasa pada awal bulan dan puasa lagi menjelang Idul Fitri.
Ada lagi puasa sapi, kalau bersama orang banyak terlihat puasa, tetapi kalau sendirian makan dan sesudahnya bibir diusapi agar terlihat kering tak ada sisa makanan.
Ada juga puasa mardud (ning njaba pasa, ning kamar udud).
Dalam konteks sosial, puasa memiliki kedudukan sebagai perekat masyarakat ketika terjadi peningkatan kepedulian terhadap sesama melalui berbagai tindakan charity (kedermawanan), seperti takjil dan jaburan, membayar zakat, infak, serta sedekah.
Juga terjadi penguatan ikatan persaudaraan yang diistilahkan dengan silaturahmi melalui kegiatan keagamaan bersama. Ada kuliah subuh yang mempertemukan mereka dalam kajian agama, mengaji tabarrukan puasa yang dikenal dengan istilah posonan dalam dunia pesantren atau sekadar kumpul-kumpul menjelang berbuka yang dalam bahasa Semarangan diistilahkan ngenteni dhul.
Jika ada seseorang yang sedang marah-marah, lingkungan akan menegurnya "jangan marah ini puasa." Peminta-minta di jalanan bertambah banyak karena suasana batin orang sedang giat-giatnya memburu pahala dengan aneka kebajikan.
Mereka berada dalam kerangka pemikiran akan keistemewaan Ramadan di mata agama. Saat ini, Tuhan menaburkan rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka.
Puasa juga memiliki kedudukan yang signifikan dalam kehidupan ekonomi. Sebab transaksi bahan konsumtif meningkat tajam, atas nama Ramadan dan persiapan untuk Lebaran.
Baju baru memang tidak wajib dalam rangka menyongsong Lebaran. Namun Lebaran tanpa baju baru, ibarat malam tak berbintang. Biarlah para ustad dan kiai bisa menahan diri pada saat Lebaran tak ganti baju baru, tetapi tetap saja kebanyakan orang mempunyai kaidah sosial bahwa Lebaran berarti baju, sandal baru, dan kue di meja yang dibagi secara gratis kepada semua tamu.
Syahwat makan yang meningkat pada saat berbuka, secara otomatis berpotensi meningkatan transaksi bahan makanan. Lebih dari itu, ibu-ibu tak bisa berhemat dalam belanja selama Ramadan, meski hanya menyediakan dua kali makan (berbuka dan sahur).
Secara moral, puasa punya kedudukan sebagai sebuah jeda kemanusiaan ketika anjuran berbuat baik meningkat secara drastis. Tiba-tiba banyak orang yang sekonyong-konyong menjadi baik selama Ramadan. Para penghuni PSK berlibur untuk menghormati bulan suci ini, bahkan sebagian lagi mengikuti pengajian.
Allah Maha Pengampun atas segala dosa, pintu taubat masih terbuka lebar.Wallahu a'lam bissawab.
- Prof Dr Abdul Djamil MA, Rektor IAIN Walisongo
Puasa Bagi Orang Awam
Friday, September 29, 2006
Puasa bagi Orang Awam

AWAM, bisa berarti umum atau kebanyakan atau tidak begitu menguasai. Jadi orang awam bisa berarti orang biasa yang tidak khusus (khawas) atau orang yang tidak (begitu) menguasai suatu bidang/masalah.
Dalam pengertian yang kedua, semua orang bisa saja awam. Orang yang mempunyai keahlian khusus dalam bidang teknologi misalnya, bisa awam di bidang agama. Sebaliknya, orang yang ahli agama, bisa jadi orang awam di bidang bisnis. Demikian seterusnya.
Nah, berkaitan dengan ibadah puasa, orang awam dalam pengertian pertama, tentulah orang (Islam) yang hanya mengetahui bahwa puasa itu kewajiban atau salah satu rukun Islam dan harus dikerjakan. Menurut mereka, mengerjakan puasa harus dengan niat di malam hari dan tidak makan, minum, bersetubuh pada siang hari. Lalu siapa orang khusus dalam hal ini?
Ahli fikih mungkin bisa dianggap sebagai orang khusus, karena mengetahui lebih dari orang kebanyakan. Misalnya, mereka tahu persis syarat rukun puasa. Mereka juga tahu kewajiban dan kesunahan serta apa saja yang membatalkan puasa. Begitu juga dengan segala rincian hukum puasa.
Meski demikian, ada yang lebih khusus lagi. Yakni, mereka yang menganggap puasa itu tidak sekadar mengetahui syarat dan rukunnya. Apalagi sekadar tidak makan, minum, dan bersetubuh pada siang hari.
Lebih dari itu, bagi mereka, puasa adalah meninggalkan segala sesuatu yang tidak diridai Allah. Dia tidak berbohong, tidak menggunjing orang lain, tidak sombong, tidak pamer, tidak melukai hati orang, tidak bicara buruk, dan sebagainya.
Namun bagi kalangan sufi, mereka semua itu termasuk orang awam. Ahli sufi yang sudah sampai makrifat Allah, sedetik saja tidak ingat Allah, batallah puasanya. Kalau kita mengambil standar mereka yang sudah makrifat, tentu kita semua adalah orang awam.
Masuk Neraka
Waba'du; Allah SWT tidak hanya Tuhan mereka yang sudah makrifat. Tidak hanya Tuhan para ahli fikih, dan tidak hanya Tuhannya hamba-hamba yang khusus. Allah adalah Tuhannya seluruh makhluk, termasuk orang-orang awam.
Orang-orang (muslimin) awam dambaannya tidak lebih dari pahala dan paling puncak adalah surga. Orang awam memandang, Allah mungkin itu sekadar majikan dan mereka buruh.
Asal perintah majikan sudah dijalankan, sesuatu pemahaman dan sebatas kemampuannya, mereka boleh berharap mendapat pahala dan kelak masuk surga. Titik. Allah Asysyakuur pun menurut keyakinan saya -wallahu a'lam- pasti menghargai dan tidak akan mengecewakan harapan mereka itu.
Bagi orang-orang khusus yang sudah mencapai tataran makrifat, surga memang bukan iming-iming yang menggiurkan. Bahkan sufi perempuan dari Bashrah, Rabi'ah Adawiyah, dengan lantang munajat kepada Tuhannya, "Ya Allah, apabila aku beribadah kepada-Mu karena menginginkan surga-Mu, haramkanlah aku masuk ke surga-Mu. Namun apabila aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, ceburkan saja aku ke neraka-Mu. Aku hanya menginginkan-Mu."
Lebih dahsyat lagi, perempuan suci itu memohon kepada Allah, "Ya Allah ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam neraka dan jadikanlah tubuhku sedemikian besarnya sehingga memenuhi ruang neraka, agar tempat itu tak muat lagi untuk dimasuki hamba-Mu yang lain."
Itulah orang-orang khusus. Bagi kita yang awam, hal paling penting adalah bagaimana bersungguh-sungguh menjalankan perintah Allah.
Dalam hal puasa, kita betul-betul berusaha seikhlas mungkin menjalankannya sesuai dengan pemahaman dan kekuatan kita. Artinya, kita usahakan menjalankannya hanya semata-mata karena Allah. Sejauh mungkin menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merusak kesucian Ramadan dan puasa kita.
Apabila yang halal-halal saja, seperti makan dan minum, kita hindari, lebih-lebih yang haram-haram seperti berdusta atau ngrasani orang.
Mudah-mudahan Allah menerima puasa dan amal-amal ibadah kita yang lain. Amin. (60m)
- KH A Mustofa Bisri, budayawan dan pengasuh Ponpes Raudlathuth Thalibien
Ma'lisy Mas, Jualan Nasi Uduk
Saturday, September 16, 2006
Ma'lisy mas, jualan nasi uduk
Nasi uduk tak terlalu istimewa buat kita. Tiap orang Indonesia pastilah tahu nasi uduk. Nasi yang dibuat bersama bumbu dan diolah sedemikian rupa, dan ditemani lauk telur, sedikit lalapan timun segar, dan taburan bawang goreng yang renyah. Hmmm.....sedap (jadi pengeeennnn)
Minggu pagi di Kairo diisi suara ketukan yang keras, ternyata ada yang datang. "Ma'lisy mas, jualan nasi uduk."
"Ooh, ma'lisy mas, tadi sini semua sudah sarapan."
"Trus yang ada orang Indonesianya mana lagi, Tadz?"
"Itu di sebelah ada satu rumah lagi."
Kujelaskan cuma ada satu rumah lagi yang dihuni mahasiswa Indonesia. Sebenarnya satu lantai ada 3 flat yang dihuni mahasiswa Indonesia, tapi karena tetangga depanku -yang rumahnya jadi sekretariat salah satu pondok di Jombang- sudah terlebih dahulu dihampiri, akhirnya aku menunjukkan rumah Jajang, tetangga sebelah.
Aku tidak tertarik dengan nasi uduknya. Tapi pada penjajanya itulah. Diiringi dengan senyum, mengenakan hem pendek, dan memakai handphone berheadset, yang harganya agak lumayan. Di negri sendiri, yang aku tahu penjaja makanan keliling malah lebih rendah derajat ekonominya dibanding konsumen. Tapi di Kairo mahasiswa yang kreatif bekerja, seperti membuat makanan bisa langsung mendadak kaya setelah sebulan mendapatkan hasil. Ada juga beberapa kenalan yang menekuni usaha home industry, yaitu membuat tempe, tahu, kue, sampai kerupuk. Jangan dikira mereka adalah mahasiswa yang melarat, hanya sebulan dua kali buat tempe, bisa buat hidup sebulan plus biaya rokok dan pulsa. tak ada yang menganggap mereka itu mahasiswa kere. Teman-teman malah memanggil dengan sebutan juragan tempe, tahu, atau juragan kerupuk, dsb.
Menilik dengan gawean mahasiswa yang bermacam-macam, ada-ada saja yang dapat menghasilkan uang. Mulai dari usaha travel, restoran (rumah makan), warnet, jualan makanan, sampai-sampai usaha penyewaan sound sysytem, rental mobil, motor, handycam, kamera digital, dsb. Merebaknya bisnispribadi ini tentu saja akan mendatangkan pound-pound bagi juragan. Orientasi meraup pound ini memang bisa dikatakan normal, tetapi bukannya tidak bermasalah. Usaha rental handycam dan kamera digital misalnya, akhir-akhir ini hampir semua pemilik handycam menyewakan barangnya, dengan penawaran per hari/ cd, dan akan dirampungkan editingnya sampai rampung menjadi cd. Padahal, untuk acara pribadi, seperti ulang tahun, rihlah, boleh meminjam, tetapi saat yang mengajukan permohonan adalah lembaga, sang pemilik langsung pasang sinyal for rent. Apa ini sebuah klise mahasiswa yang memandang organisasi adalah lumbung harta? Entahlah. Aku terlalu awam memikirkan cara berpikir hubungan manusia yang terlalu kompleks.
Kembali ke penjual nasi uduk tadi. Kenapa ia rela melewatkan senyum mentari pagi untuk menjajakan nasi uduk door to door? Kenapa ia tak membuka restoran saja? Nampaknya ia terlalu yakin, nasi uduk akan banyak diminati mahasiswa. Mengingat tak dicantumkannya hidangan nasi uduk dalam daftar menu restoran-restoran Indonesia di Kairo. Padahal jumlah restoran Indonesia di Kairo tak bisa dibilang sedikit. Dan tampaknya sang penjual nasi uduk tak bercita-cita mendirikan restoran sendiri, mengingat modal yang dibutuhkan Masya Allah jumlahnya. Walhasil, usaha pribadi, modal pribadi, keuntungan pribadi, dan kebanggan pribadi.
Begitulah cara berpikir mahasiswa, potret realita kehidupan mahasiswa.
awwil kilmah
Friday, September 08, 2006
bismillahirrahmanirrahiim

awwil kilmah...ana buhibbuku fillah
tani hagah....ana musy ariif saaktub eeih...

pokokna...met nikmatin aja blog baru nie...moga ada manfaatnya...amiiiiin